Tangerang, – Kecamatan Sepatan Timur merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Sepatan tahun 2006. Dengan masyarakat berasal dari penduduk asli dan penduduk pendatang dengan keanekaragaman profesi dan strata ekonomi menengah ke bawah, tinggal di lokasi perumahan dan pedesaan. Namun masyarakat yang ekonominya relatif rendah tinggal di perkampungan dengan sebagian besar mata pencahariannya adalah buruh dan petani (https://id.wikipedia.org/wiki/Sepatan_Timur, Tangerang). Di salah satu desa dari Kecamatan tersebut, yaitu Desa Jatimulya terdapat 12 (dua belas) pengrajin tempe dengan ke khasannya yaitu Tempe Daun Waru. Bukan berarti tempe ini terbuat dari daun waru, tetapi tetap menggunakan bahan baku kedelai hanya saja kemasannya menggunakan daun, Oleh : Ir. Linda Aliffia Yoshi, ST, MT; Prof. Dr. Ir. Joelianingsih, MT; Dra. Setiarti Soektjo M.Sc;
Foto : Produk tempe dengan kemasan daun waru
Meskipun demikian, kapasitas produksi dari kelompok ini masih termasuk rendah yaitu kurang dari 25 kg/hari. Diakibatkan oleh imbas dari harga kedelai yang terus merangkak naik mencapai Rp 14.800/kg dan tidak adanya modal yang lebih. Berdasarkan survey awal, pendapatan bersih setiap pengrajinnya hanya sekitar Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah) per hari. Hal ini tidak sebanding dengan usaha pembuatan dan pemasarannya yang masih bersifat door to door. Sehingga pengrajin ini masih skala industri rumah tangga dan masuk dalam kategori ekonomi rendah. Foto : Label dan kemasan keripik sebelum pendampingan
Salah satu dari 12 pengrajin tempe di desa Jatimulya telah membuat diversifikasi produk tempe yaitu keripik tempe. Foto : Pendampingan pengemasan keripik tempe
Permasalahan yang masih perlu mendapat perhatian adalah terkait cara pengemasan dan pemasaran untuk menaikkan harga jual dan menarik perhatian konsumen. Oleh karena itu melalui program hibah Program Insentif Pengabdian Masyarakat Terintegrasi Dengan Mbkm Berbasis Kinerja IKU Bagi PTS Tahun 2022 (Hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi kepada 50 PTS salah satunya Indonesia Institut Teknologi Indonesia dengan nomor kontrak : 529/E1/KS.06/2022) telah dilaksanakan proses pendampingan pemasaran keripik yang dikhususkan pada bagian pembuatan label dan cara pengemasan agar menambah nilai jual dan diterima oleh konsumen. Sebab penampilan suatu produk merupakan hal utama untuk sebuah branding.
Diharapkan melalui program ini juga akan mendukung program pemerintah terkait “Ekonomi Bangkit”. Bantuan yang diberikan terdiri dari 1 buah mesin pemotong keripik tempe manual, 1 buah impulse sealer plastik (30 dan 40 cm), cromo vinil paper stiker keripik (120 buah), plastik kemasan keripik ukuran 16 dan 20 cm (masingmasing 250 buah), plastic doff/pouch kemasan keripik 1000 buah. Gambar 3 adalah foto saat pelatihan dan pendampingan pengemasan keripik dan Gambar 4 merupakan foto kemasan keripik setelah pendampingan dimana kemasan keripik ada 2 macam yaitu kemasan bening dan kemasan doff (untuk keripik yang premium).
(Red)