MALANG — Pemuda di lingkungan Dusun Codo Ledok mendapatkan edukasi mengenai politik dan kehidupan demokrasi melalui kegiatan “Edukasi Politik bagi Pemuda” yang dilaksanakan di Masjid Codo Ledok pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu program individu KKN Kelompok Codo Ledok 40 yang dilaksanakan oleh Ikro B. Nauri.
Kegiatan yang diikuti oleh tujuh peserta tersebut dilaksanakan dalam bentuk diskusi interaktif. Edukasi ini bertujuan memberikan pemahaman dasar kepada pemuda mengenai politik, partisipasi masyarakat dalam demokrasi, serta pentingnya bersikap kritis dalam menerima informasi dan menentukan pilihan politik.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih adanya pandangan di masyarakat yang menganggap politik identik dengan perilaku negatif para politisi, konflik kepentingan, pemilu, maupun politik uang. Padahal, politik memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat karena berbagai keputusan politik dapat memengaruhi pendidikan, kesehatan, pembangunan, ekonomi, pelayanan publik, dan kehidupan sosial.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa politik tidak hanya berkaitan dengan politisi atau proses pemilihan umum. Politik juga berkaitan dengan proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama. Karena itu, pemuda sebagai bagian dari masyarakat perlu memiliki pemahaman politik yang baik agar dapat berpartisipasi secara bijaksana dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.
Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif. Setelah materi disampaikan, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta berdiskusi mengenai persoalan politik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Beberapa pertanyaan digunakan sebagai pemantik diskusi, seperti pandangan peserta ketika mendengar kata politik, apakah politik selalu identik dengan hal buruk, mengapa masyarakat perlu memahami politik, dampak politik uang, serta alasan memilih dalam pemilu menjadi bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Salah satu materi yang mendapat perhatian dalam kegiatan adalah mengenai politik uang. Peserta diberikan pemahaman bahwa pilihan politik seharusnya didasarkan pada pertimbangan terhadap visi, program, kapasitas, dan rekam jejak calon, bukan semata-mata karena pemberian materi atau imbalan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan beragam pandangan mengenai politik. Pada awal diskusi, politik masih cenderung dipahami sebagai sesuatu yang berkaitan dengan politisi, pemilu, dan kepentingan tertentu. Melalui diskusi, peserta kemudian diajak melihat politik dalam cakupan yang lebih luas, khususnya kaitannya dengan berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pemuda untuk menyampaikan pandangan secara terbuka. Selain meningkatkan pemahaman mengenai konsep dasar politik, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam kehidupan demokrasi serta bahaya politik uang.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan menghadapi kendala berupa anggapan bahwa pembahasan politik merupakan hal yang sensitif. Perbedaan tingkat pemahaman peserta juga membuat materi perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kendala tersebut diatasi dengan menciptakan suasana diskusi yang santai, terbuka, dan tidak mengarahkan peserta kepada pilihan politik tertentu.
Ke depan, edukasi politik bagi pemuda diharapkan tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Diskusi lanjutan mengenai demokrasi, pemerintahan, pelayanan publik, pemilu, serta literasi digital dan informasi politik dapat menjadi bentuk keberlanjutan kegiatan. Pemuda juga diharapkan dapat berperan aktif dalam kegiatan masyarakat dan menjadi penyampai informasi positif di lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan Edukasi Politik bagi Pemuda, diharapkan tumbuh generasi muda yang memiliki pemahaman politik yang lebih baik, mampu bersikap kritis terhadap informasi, serta dapat menggunakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara secara bertanggung jawab.
(Red)



