Syaiful Amri: PSSI Doyan Naturalisasi, Jeblok Usia Dini!

Kabar Jelang Piala Asia 2027

Nasional19 Dilihat

JAKARTA, JejakProfil.com – Jagat sepak bola nasional kembali ramai setelah isu naturalisasi pemain keturunan kembali dilempar ke ruang publik nasional.

Pemantik kabar datang dari M. Noor Korompot melalui unggahan media sosial yang langsung memancing spekulasi suporter Timnas Indonesia.

Noor Korompot menyebut pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, telah memasukkan lima pemain keturunan menuju Piala Asia AFC 2027.

“Siapa lima pemain ini? Tunggu ya,” tulis Noor Korompot sambil membiarkan publik kembali tenggelam dalam euforia pemain diaspora.

Kabarnya, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir juga membenarkan proses persiapan naturalisasi itu untuk menghadapi agenda besar Timnas Indonesia.

Sontak, media sosial berubah seperti ruang bursa transfer pemain keturunan dadakan yang penuh tebakan liar dan analisis setengah matang.

Beredar Nama Diaspora

Nama seperti Jenson Seelt, Dean Zandbergen, Daijiro Chirino, Tristan Gooijer, hingga Pascal Struijk langsung menjadi perbincangan panas para suporter nasional.

Sebagian publik menyambut kabar itu seperti menemukan jalan tol instan menuju Piala Dunia yang selama puluhan tahun sekadar jadi mimpi.

Namun, tidak semua orang ikut hanyut dalam pesta optimisme proyek naturalisasi tersebut.

Salah satu pendapat berbeda datang dari pecinta sepak bola sekaligus mantan jurnalis Jawa Pos Group, Syaiful Amri.

“Kalau saya ya biasa saja. Tidak ada istimewanya upaya naturalisasi itu,” ujar Syaiful Amri, Rabu, 13 Mei 2026.

Menurutnya, naturalisasi memang sah dilakukan selama sesuai regulasi sepak bola internasional dan kebutuhan tim nasional Indonesia.

Gacor Naturalisasi Tanpa Pondasi

Tetapi, Syaiful menilai PSSI terlalu nyaman menjadikan naturalisasi sebagai panggung utama pembangunan sepak bola nasional modern.

Ia bahkan menyebut federasi sedang membangun “destinasi mimpi” bernama Piala Dunia demi menjaga harapan publik tetap menyala.

“Kenapa saya sebut mimpi? Karena Timnas hanya dimaksimalkan dari skuad naturalisasi,” katanya.

Sindiran itu terasa keras, tetapi sulit dibantah melihat arah pembangunan sepak bola Indonesia beberapa tahun terakhir.

Indonesia sibuk berburu darah keturunan Eropa, sementara kompetisi usia muda domestik masih berjalan terseok-seok tanpa kepastian arah pembangunan jelas.

Negara seperti Jepang justru membangun kekuatan sepak bolanya dari sekolah, universitas, hingga kompetisi usia dini berjenjang nasional.

J.League menjalankan proyek pembangunan seratus tahun dengan target besar menjadi juara dunia pada 2050 mendatang.

Mereka tidak sibuk menjual mimpi melalui media sosial setiap pekan, tetapi membangun sistem kompetisi yang konsisten puluhan tahun lamanya.

Maksimalkan Turnamen Sekolah

Turnamen sekolah seperti Winter Kokuritsu bahkan menjadi budaya nasional sejak 1917 dan melahirkan banyak pemain berkualitas dunia.

Pada Piala Dunia FIFA 2022, Jepang menurunkan kombinasi pemain jebolan sekolah dan akademi klub profesional secara seimbang.

Syaiful menilai Indonesia seharusnya meniru fondasi Jepang, bukan sekadar mengejar sensasi naturalisasi demi ranking FIFA sesaat.

“Tapi apakah itu jaminan ke Piala Dunia? Kan tidak. Itu hanya membuka probabilitas ranking FIFA naik,” tegasnya.

Ia meminta PSSI mulai serius membangun kompetisi pelajar, mahasiswa, hingga pembinaan usia muda secara terstruktur dan berkelanjutan nasional.

“Bangkitkan lagi Liga Santri dan kompetisi pelajar. Jangan hanya mengandalkan EPA atau Piala Soeratin,” katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta muda daerah yang selama ini kalah kesempatan akibat dominasi pemain asing kompetisi domestik nasional.

Ia meminta operator liga mengurangi kuota pemain asing demi membuka ruang bermain lebih luas bagi talenta lokal muda.

“Memperbanyak pemain asing tidak otomatis menaikkan kualitas liga atau ranking AFC secara signifikan,” ujar Syaiful.

Kritik berikutnya mengarah kepada tata kelola kompetisi yang masih jauh dari standar profesional Asia modern saat ini.

Asian Football Confederation memiliki regulasi ketat terkait kesehatan finansial dan profesionalisme klub peserta kompetisi resmi Asia.

Klub wajib bebas tunggakan gaji, memiliki stadion layak, akademi usia muda aktif, hingga legalitas organisasi yang jelas dan profesional.

Ironisnya, beberapa klub Indonesia masih bergantung pada anggaran pemerintah sambil berbicara soal mimpi tampil konsisten di level Asia.

Di tengah gegap gempita naturalisasi, kritik itu menjadi pengingat bahwa sepak bola besar tidak lahir dari jalan pintas semata.

Sebab mimpi menuju Piala Dunia membutuhkan fondasi kuat, bukan sekadar daftar pemain diaspora yang ramai setiap jendela naturalisasi dibuka.

“Sekali lagi sebagai orang yang suka nonton timnas hanya mengingatkan, PSSI berjalanlah pada road map yang benar, jangan hanya mengedepankan naturalisasi,” pungkas Syaiful Amri.