Penulis : Rizky Ricardo Brialasono
Di era sekarang ini, siapa yang tidak menggunakan media sosial? Berdasarkan studi yang dilakukan The New York Times saja anak 38% anak usia 10 – 12 tahun saja sekarang sudah menjadi pengguna aktif media sosial, apalagi kita yang sudah menjadi masyarakat dewasa ini. Kehadiran platform social media seperti, Instagram, Tiktok, Facebook dan Youtube telah merubah arti hiburan dan kehidupan berkomunikasi menjadi sebuah wadah yang tidak terhingga. Terlebih, di era sekarang ini platform tersebut telah mengembangkan fitur – fiturnya menjadi lebih interaksional dan traksaksional.
Kehadiran banyaknya platform media sosial tersebut merubah gaya dan pandangan hidup masyarakat khususnya di Indonesia sendiri untuk mendapatkan informasi apapun. Misalnya seperti ini, dulu ketika kita ingin mengetahui sepatu lari apa yang bagus dan cocok untuk berlari, orang akan bertanya langsung kepada pelatih, atlet atau siapapun yang memang menggeluti bidang tersebut. Namun, hari ini kita bisa mendapatkan informasi sepatu apa yang cocok untuk berlari dari orang yang bahkan tidak pernah menggeluti olahraga tersebut. Cukup buka TikTok atau Instagram, lalu kita akan menemukan orang yang membagikan latihan, pace, rekomendasi sepatu, jam olahraga, nutrisi, sampai pengalaman mengikuti lomba.
Ini lah yang menjadi menarik hari ini, dimana kita sebagai masyarakat bukan hanya menjadi sebuah audiens namun juga bisa menjadi sebuah rujukan bagi orang lain. Mereka yang menjadi tempat rujukan orang lain atau Opinion Leader ini memiliki sebuah audiens dimana audiens tersebut menjadi sebuah komunitas virtual yang tidak terlihat sehingga menjadi sebuah “Mesin” penggerak dalam ranah pengambilan keputusan.
Adanya fenomena Opinion Leader ini sebetulnya bukan hal yang baru baik di dalam sebuah komunitas konvesional biasa ataupun komunitas virtual. Opinion Leader ini menjadi sebuah kunci penting dalam berkomunikasi secara mouth to mouth dalam komunitas tersebut. Walau biasanya Struktur hubungan keterlibatan masyarakat, kepercayaan informasi dan pertukaran informasi masyarakat juga dipengaruhi berdasarkan gelar popularitas yang disandang oleh Opinion Leader di komunitas virtual tersebut. Kembali kepada tema ini, artinya pada saat ini juga media sosial telah menciptakan ruang baru bagi lahirnya Opinion Leader di dalam dunia olahraga melalui para content creator.
Mengapa bisa terciptanya ruang baru ini? Perubahan tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya popularitas olahraga sebagai bagian dari gaya hidup. Running, gym, cycling, padel, hingga olahraga dengan format kompetitif seperti HYROX semakin sering muncul dalam percakapan digital yang dibuat oleh para contentcreator dan Opinion Leader ini. Aktivitas olahraga tidak lagi hanya berlangsung dilapangan, lintasan, atau pusat kebugaran. Ia juga berlangsung di layar ponsel melalui video pendek, unggahan latihan, ulasan produk, dan cerita personal.
Dari Olahraga Menjadi Sebuah Konten Penarik Masa
Beranjak dari pemahaman awal sebelumnya, media sosial telah berkembang dan merubah bagaimana cara seseorang menunjukan aktivitas olahraga. Kita pernah mengalami fase yang dulu setelah berolahraga lalu pulang, mungkin sekarang secara tidak terasa berubah mulai membagikan rute ketika berlari, jarak dan waktunya, mendali, pencapaian saat Latihan, mereview alat olahraga serta membagikan pengalaman saat melakukan sesuatu pertandingan besar yang diunggah dan dilihat oleh orang banyak. Itu semua dapat dijadikan sebuah konten dan dapat menarik perhatian. Olahraga kemudian tidak menjadi hanya aktivitas fisik saja, namun dapat menjadi pengalaman yang di produksi, dibagikan dan dikonsumsi oleh khalayak luas.
Di Indonesia, perkembangan ekosistem tersebut bahkan membuat platform pemasaran Opinion Leader semakin spesifik mencari dan mengelompokkan creator berdasarkan niche. Salah satu basis data Opinion Leader yaitu modish.io yang diperbarui pada Juli tahun 2026, misalnya, mengidentifikasi 46 Opinion Leader di Indonesia dalam kategori running berdasarkan kriteria pencariannya, sementara kategori fitness mencapai 261 Opinion Leader dalam pencarian Indonesia pada Juni 2026.
Walau angka tersebut bukan menjadi sebuah ukuran dari keseluruhan ekosistem Opinion Leader olahraga di Indonesia, namun dari data tersebut dapat terlihat bahwa olahraga menjadi salah satu sektor yang berpotensi secara spesifik untuk diperlakukan sebagai sebuah pasar Opinion Leader tersendiri. Artinya, semakin banyak orang yang membuat konten olahraga, maka potensi perhatian yang diterima bisa menjadi lebih besar bahkan untuk mereka yang bukan seorang atlet professional sekalipun.
Semua Tidak Harus Menjadi Terkenal Ketika Menjadi Opinion Leader
Walau terkadang keterlibatan, struktur dan kepercayaan masyarakat dipengaruhi oleh gelar popularitas yang disandang, namun semakin kesini hal tersebut mulai bergerak dan terbuka kearah bagaimana masyarakat atau dalam hal ini sang Opinion Leader dapat menyampaikan pesan (Surahman, 2018).
Dalam teori Two-Step Flow Commucation yang di kembangkan oleh Paul Lazarsfeld (1944) informasi dan pengaruh media yang ada tidak langsung bergerak dan mengalir begitu saja. Namun ada sebuah individu tertentu yang berperan sebagai sebuah perantara dimana peran ini seperti menerima informasi, mengitepretasikannya kemudian ia meneruskan kepada khalayak luas. Itulah yang sejak awal kita bahas sebagai Opinion Leader.
Betul gagasan ini lahir pada saat media masih didominasi oleh surat kabar, radio dan televisi. Namun, ini menjadi sebuah gagasan yang tetap menarik dibawa kedalam era media sosial sekarang. Beberapa penelitian baru ini melihat bahwa contentcreator dan Opinion Leader ini sebagai suatu bentuk baru dari proximal mass Opinion Leader dimana mereka tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menyampaikan penyerdahanaan dan orientasi kontes bagi para pengikutnya.
Kembali kita melihat di dunia olahraga, kredibilitas dan pengalaman menjadi sebuah hal yang paling utama. Namun di era sekarang, semuanya orang dapat membagikan pengalaman yang mungkin hampir sama dengan para atlet professional. Misalnya Seorang pelari membagikan pengalaman menggunakan sepatu tertentu.
Ia menjelaskan bagaimana rasanya digunakan untuk long run, bagaimana ukurannya, bagaimana performanya setelah beberapa minggu, dan apakah menurutnya sepatu tersebut layak dibeli. Audiens kemudian melihat ini sebagai sebuah kesamaan dengan para professional dan pada akhirnya informasi yang disampaikan menjadi lebih luas jangkauannya karna pengalaman ini dikeluarkan oleh orang yang “Sama” dengan masyarakat.
Namun perlu digaris bawahi bahwa pengalaman yang dibagian oleh Opinion Leader ini bisa saja bertentangan dengan pengalaman masyarakat, sehingga bisa terjadi konflik – konflik terbuka di dalam komunitas virtual tersebut. Apakah ini salah? Tidak, karena berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Opinion Leader ini, para anggota komunitas virtual bisa saling berinteraksi, berdiskusi, dan bertukar informasi, tinggal bagaimana komunitas dapat menyimpulkan kepada suatu topik pembahasan.
Peluang Ekonomi Bagi Para Opinion Leader
Pada akhirnya, kita tidak bisa menyangkal bahwa setiap ada peluang dalam pemanfaatan masa yang cukup besar, artinya kita bisa mendapatkan peluang ekonomi yang cukup besar pula. Peluang inilah yang membuat fenomena Opinion Leader di bidang olahraga menjadi semakin menarik. Mengapa dikatakan menarik? Ketika seseorang memiliki kemampuan memengaruhi perhatian dan keputusan audiens, pengaruh tersebut dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi.
Konversi nilai ekonomi yang dimaksud disini adalah bagaimana awalnya seseorang yang awalnya hanya membagikan rutinitas berolahraga dapat berkembang menjadi creator yang mendapatkan peluang kerja sama dari brand. Kerja sama ini bisa berbagai macam bentuk seperti konten bersponsor, produk yang diberikan secara free, menjadi ambassador suatu brand, kolaborasi komunitas bahkan pengembangan suatu komunitas.
Pada saat bersamaan ini, brand akan mendapatkan suatu nilai yang besar yaitu akses terhadap audies yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga. Inilah salah satu alasan mengapa industri pemasaran melalui para Opinion Leader terus berkembang. Mereka akan berlomba –lomba untuk membuat suatu konten dengan bentuk yang beragam baik secara hard selling ataupun soft selling. Konten yang dihasilkan pada media sosialnya akan mempu memberikan pengaruh kepada audiens di komunitas virtualnya dalam memahami produk dan penilaian terhadap produk tersebut.
Secara sederhana ini jadi sebuah mekanisme yang menarik dimana terjadi hubungan yang saling menguntungkan. OpinionLeader mendapatkan monetisasi dari pengaruhnya, brand memperoleh akses bagi para calon konsumen, audien di komunitas virtual mendapat informasi, rekomendasi atau inspirasi dan menjadi sebuah ekosistem yang baik.
Ini sama dengan bagaimana C. Homans (1958) memunculkan teori Social Exchage Theory. Dalam teorinya, ia menjelaskan bagaimana pihak – pihak memutuskan untuk melanjutkan, mempertahankan, atau menghentikan hubungan komunikasi dengan orang lain berdasarkan pertimbangan ganjaran (reward) dan pengorbanan (cost).
Brand Mendapatkan Wajah Baru Dari Para Opinion Leader
Perkembangan globalisasi dan media tidak hanya mempengaruhi teknologi itu sendiri secara keseluruhan. Namun juga mempengaruhi bagaimana brand atau perusahaan melihat peluang pemasaran. Banyak brand – brand olahraga yang mulai melihat Opinion Leader sebagai salah satu cara untuk menaikan penjualan dari produk mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada saat ini, brand – brand olahraga baik micro maupun macro harus saling berlomba melakukan inovasi dalam penjualan, karena memang demand dan trend olahraga sedang tinggi.
Tapi terkadang ada beberapa brand yang melihat para Opinion Leader ini hanya sebagai “Media Placement” baru dan menganggap apabila dilakukan kerja sama hasilnya tidak dapat terlihat secara langsung. Apakah ini salah? Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Hal ini dikarenakan target dari masing – masing brand itu sendiri berbeda, karena biasanya Seorang Opinion Leader tidak hanya menawarkan jumlah tayangan. Ia dapat menawarkan akses terhadap sebuah komunitas.
Kita bisa membayangkan jika sebuah brand olahraga ingin masuk ke pasar running. Brand tersebut dapat membeli iklan dan menjangkau jutaan orang secara luas. Namun, iklan tersebut belum tentu menciptakan kedekatan dengan komunitas runner. Sebaliknya, bekerja sama dengan sejumlah Opinion Leader dan komunitas olahraga memungkinkan brand masuk ke ruang yang sudah memiliki percakapan, kebiasaan, dan kepercayaan sendiri. Karena itu, hubungan brand dengan para Opinion Leader sebenarnya tidak berhenti pada konten. Ia juga dapat berkembang menjadi hubungan dengan ekosistem. Biasanya brand dengan ukuran macro dapat menggabungkan metode beriklan secara luas dan berkerja sama dengan para Opinion Leader, namun brand dengan ukuran micro biasanya tidak bisa melakukan iklan secara luas karena sudah pasti cost yang dikeluarkan akan lebih tinggi sehingga strateginya lebih menyasar kepada para Opinion Leader ini.
Tetapi, hubungan yang saling menguntungkan ini bukan berarti tanpa resiko. Justru Justru karena seorang Opinion Leader memiliki pengaruh terhadap persepsi audiens, brand perlu berhati-hati ketika memilih siapa yang akan menjadi bagian dari komunikasi mereka. Karena dalam konteks hal ini, pengaruh Opinion Leader dapat dipandang sebagai asset dan sekaligus risiko reputasi brand. Betul dan sangat jelas sekali bahwa brand mendapatkan akses lebih kepada komunitas dan audiens secara relevan. Namun pada saat bersamaan, brand juga diasosiasikan dengan individu yang mereka pilih sebagai representasi komunikasi. Ketika seorang Opinion Leader terlibat dalam kontroversi, pernyataan bermasalah, atau perilaku yang bertentangan dengan nilai yang diasosiasikan dengan brand, publik tidak selalu memisahkan keduanya secara tegas.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Attribution Theory. Dalam proses atribusi, publik berusaha memahami penyebab dan pihak yang bertanggung jawab atas suatu peristiwa. Ketika hubungan antara Opinion Leader dan brand terlihat kuat, perilaku Opinion Leader dapat menjadi bagian dari penilaian publik terhadap brand. Penelitian mengenai Opinion Leader dan krisis korporasi menunjukkan bahwa keterlibatan Opinion Leader dalam komunikasi brand dapat memengaruhi persepsi konsumen mengenai motif brand, tingkat kepercayaan, dan reputasi perusahaan. Dengan demikian, persoalannya tidak hanya apakah seorang Opinion Leader memiliki banyak pengikut atau tidak, tetapi juga siapa orang tersebut di mata publik.
Hal ini kembali berkaitan dengan Source Credibility. Jika pengaruh seorang Opinion Leader dibangun melalui persepsi terhadap expertise, trustworthiness, dan karakter personalnya, maka perubahan terhadap persepsi tersebut juga berpotensi memengaruhi nilai komunikasinya.
Olahraga Sebagai Ruang Baru
Fenomena ini pada akhirnya memunculkan dan memperlihatkan sesuatu yang lebih besar tetang bagaimana perkembangan olahraga, teknologi dan juga media sosial. Olahraga tidak lagi menjadi suatu hal yang memiliki nilai Kesehatan, kompentisi atau kebersamaan. Namun sudah berkembang kearah nilai sosial, budaya, simbolik dan juga ekonomi.
Sebagai seorang individu, olahraga memiliki makna untuk Kesehatan, eksistensi dan status sosial. Bagi komunitas, olahraga menjadi sebuah identitas. Bagi para Opinion Leader, olahraga sudah menjadi sebuah ranah potensi untuk mendapatkan pendapatan yang lebih.
Memang betul semua ini tidak terlepas dari bagaimana masyarakat melihat trend atau fenomena sebagai salah satu indicator kehidupan. Namun Kembali lagi pada konsep awal, kehadiran Opinion Leader sebagai salah satu pembawa pesan harus di dorong dengan Self-Determination Theory (SDT), yang menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial sebagai pendorong motivasi intrinsict.
Studi yang dilakukan Fujak, Evens, dan McLeod (2026) memperlihatkan bahwa budaya Opinion Leader tengah mengubah keterkaitan antara olahraga dan media. Menurut mereka, konten yang tidak selalu bertumpu pada pencapaian atletik tingkat elite mampu mendatangkan audiens serta dampak komersial lewat kepribadian, viralitas, dan karakter konten yang selaras dengan platform digital. Perubahan tersebut menjadikan otoritas tradisional di dunia olahraga semakin cair. Pengaruh kini tidak hanya bersumber dari atlet dengan prestasi terbaik, tetapi juga dari figur yang bisa membangun kedekatan dengan audiens melalui konten dan kepribadiannya.
Dengan demikian, olahraga di media sosial pada akhirnya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ia berubah menjadi ruang tempat identitas dibentuk, komunitas dipertemukan, perhatian diperebutkan, dan pengaruh diubah menjadi nilai ekonomi.
Penulis : Rizky Ricardo Brialasono // Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi UPNVJ
Referensi
Moyer, M. W. (2022, March 24). Kids as young as 8 are using social media more than ever, study finds. The New York Times. (Media)
Douai, A. (2011). Two-step flow of communication theory. In Encyclopedia of social networks (pp. 888–890). SAGE Publications.
Surahman, S. (2018). Public figure sebagai virtual Opinion Leader dan kepercayaan informasi masyarakat. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 17(1), 53–63.
Jacksen, J., Susanto, E. H., & Pandrianto, N. (2021). Analisis Key Opinion Leader s di Media Sosial dalam Membentuk Opini Khalayak. Koneksi, 5(1), 90–97.
Tantiya, D., & Intan, A. P. (2025). Analisis efektifitas strategi Key Opinion Leader untuk meningkatkan awareness produk apparel olahraga merek Tiento. Sekolah Tinggi Manajemen PPM.
Wati, I. (2021). Pengaruh komunikasi massa terhadap khalayak. Prosiding Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Dharmawangsa, 1, 9–17.
Kelley, H. H. (1973). The processes of causal attribution. American Psychologist, 28(2), 107–128.
Hovland, C. I., & Weiss, W. (1951). The influence of source credibility on communication effectiveness. Public Opinion Quarterly, 15(4), 635–650.
Ohanian, R. (1990). Construction and validation of a scale to measure celebrity endorsers’ perceived expertise, trustworthiness, and attractiveness. Journal of Advertising, 19(3), 39–52.
Singh, J., Crisafulli, B., Quamina, L. T., & Xue, M. T. (2020). ‘To trust or not to trust’: The impact of social media Opinion Leader s on the reputation of corporate brands in crisis. Journal of Business Research, 119, 464–480.
Hasyim. (2025). Tren dan perkembangan olahraga rekreasi di era digital: Sebuah kajian literatur. Empiricism Journal, 6(4), 1818–1828.
Fujak, H., Evens, T., & McLeod, J. (2026). Influencer culture and the changing face of sport and media. Media, Culture & Society, 48(1).




