Pemain Lokal Diklaim Mahal? Syaiful Amri: Jangan Mau Dibodohi

Bicara Liga Indonesia

JAKARTA, JejakProfil.com – Pengamat sepak bola Syaiful Amri menilai, mengatakan pemain lokal Indonesia selalu lebih mahal daripada pemain asing adalah narasi yang harus diuji dengan data, bukan sekadar diulang sampai publik percaya.

“Ini kalau terus diulang, namanya bukan analisis. Ini pembodohan!” tegas Syaiful dalam sebuah komal (Komunikasi Masal) TikTok @faitan.

Mari kita lihat faktanya. Musim BRI Super League 2025/2026, setiap klub diperbolehkan mendaftarkan maksimal 11 pemain asing.

Dalam pertandingan, maksimal 7 pemain asing bisa berada di lapangan secara bersamaan.

Lalu muncul pertanyaan: Kalau benar pemain lokal jauh lebih mahal, kenapa klub tetap berburu pemain asing?

“Jawabannya sederhana. Karena harga pemain bukan satu-satunya pertimbangan,” tegasnya.

Klub membeli pemain berdasarkan kualitas, posisi, kebutuhan taktik, pengalaman, reputasi, usia, durasi kontrak, hingga potensi kontribusinya.

Bahkan Direktur Utama I.League Ferry Paulus sudah menjelaskan bahwa kebijakan penambahan pemain asing bukan karena pemain lokal mahal, tetapi salah satunya karena Indonesia ingin meningkatkan daya saing klub di kompetisi Asia.

“Jadi jangan dibalik! Pemain lokal mahal sama dengan pemain lokal tidak berkualitas,” tandasnya.

Dan pemain asing murah sama dengan pemain asing pasti lebih bagus. Yang lebih penting adalah value for money!

Kalau ada pemain lokal yang meminta kontrak tinggi karena performanya bagus, punya pengalaman Timnas, usia produktif, dan menjadi kebutuhan utama klub, apakah itu salah?

“Jelas Tidak! Justru itu hukum pasar,” tandasnya.

Yang menjadi masalah adalah ketika publik dicekoki kalimat:

“Pemain lokal mahal, makanya klub lebih baik beli pemain asing.”

Maka tunggu dulu, kata Syaiful. Mana datanya? Mana kontraknya? Mana perbandingan gajinya? Mana bukti bahwa mayoritas pemain lokal lebih mahal daripada pemain asing?

Jangan mengambil beberapa kasus pemain lokal dengan harga tinggi, kemudian digeneralisasi seolah-olah seluruh pemain Indonesia mahal.

“Itu namanya menggoreng pengecualian menjadi seolah-olah fakta umum,” tandasnya.

Dan lebih lucu lagi…

Regulasi justru tetap mewajibkan klub memainkan minimal satu pemain U-23 WNI dalam starting XI selama sedikitnya 45 menit. Artinya, pengembangan pemain lokal tetap menjadi bagian dari desain kompetisi.

“Jadi menurut Syaiful Amri. Berhenti menjadikan “pemain lokal mahal” sebagai kambing hitam!” tandanya.

Kalau mau mendatangkan pemain asing, silakan.

Kalau memang kualitasnya lebih baik, buktikan di lapangan.

Kalau memang lebih efisien, tunjukkan angka kontraknya.

Kalau memang lebih produktif, tunjukkan statistiknya.

“Sepak bola modern itu bicara data, bukan cerita warung kopi!” tandasnya.

“Apa yang disampaikan manajer, orang-orang klub tidak bisa menjadi dasar pembenaran,” kata dia.

Jangan karena ingin membela pemain asing, kemudian pemain lokal disudutkan.

Dan jangan pula karena nasionalisme, semua pemain lokal dianggap murah dan pasti bagus.

“Keduanya sama-sama ngawur!,” kata dia.