BOGOR, 6 September 2026 — Hidup bertetangga membutuhkan komunikasi dan rasa saling menghormati. Perbedaan pendapat dalam sebuah lingkungan perumahan merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan dapat muncul ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi kelompok-kelompok yang membuat sebagian warga merasa tidak dilibatkan atau tersisih.
Dalam sebuah lingkungan perumahan dengan sistem cluster, misalnya, seorang warga dapat merasa kurang mendapatkan ruang dalam komunikasi maupun kegiatan lingkungan. Perasaan tersebut bisa muncul ketika interaksi antarwarga semakin terbatas dan hanya berlangsung di dalam kelompok tertentu.
Kondisi seperti ini tidak selalu dapat disebut sebagai kekerasan psikis. Namun, apabila seseorang terus-menerus merasa diabaikan, tidak diterima, atau dijauhkan dari lingkungan sosialnya, keadaan tersebut patut mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kenyamanan dan hubungan sosial warga.
Pernah Menjadi Kajian
Persoalan hubungan sosial di lingkungan perumahan pernah diteliti oleh Ahmad Kholil dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitiannya yang diterbitkan dalam Jurnal Sosiologi Agama pada 21 Desember 2019 membahas konflik antara warga Perumahan Taman Indah dan MTs Darussalam di Yogyakarta. 
Dalam penelitian tersebut, konflik berkaitan antara lain dengan persoalan akses menuju gedung sekolah. Penelitian menemukan adanya interaksi sosial yang pasif serta kondisi deprivasi sosial yang kemudian berkaitan dengan berkembangnya konflik antarpihak. 
Kasus tersebut dapat menjadi pembelajaran bahwa komunikasi yang kurang baik dan hubungan sosial yang semakin berjarak dapat memperbesar kesalahpahaman.
Jangan Sampai Perbedaan Menjadi Pengucilan
Memiliki kelompok pertemanan di lingkungan perumahan merupakan hal yang wajar. Setiap orang bebas menentukan dengan siapa mereka berinteraksi.
Namun, persoalan menjadi berbeda apabila perbedaan kelompok membuat seseorang merasa sengaja dijauhkan, dipermalukan, atau tidak diberikan kesempatan yang sama untuk berkomunikasi dalam urusan lingkungan.
Karena itu, persoalan antarwarga sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut. Pengurus RT, RW, maupun pihak terkait dapat membuka ruang komunikasi dan musyawarah agar setiap pihak memiliki kesempatan menyampaikan pendapat.
Diam memang bisa membuat suasana tenang untuk sementara, tetapi diam tidak selalu menyelesaikan masalah. Komunikasi yang terbuka justru dapat membantu mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Penting Menjaga Etika dalam Kehidupan Bertetangga
Dalam menyikapi persoalan warga, setiap pihak juga perlu menghindari pemberian label atau tuduhan tanpa dasar. Seseorang yang merasa tersisih belum tentu menjadi korban kekerasan psikis, begitu pula seseorang yang berada dalam kelompok tertentu tidak otomatis dapat disebut sebagai pelaku pengucilan.
Karena itu, fakta perlu diperiksa dan setiap pihak yang terkait diberikan kesempatan untuk menyampaikan penjelasan.
Lingkungan perumahan pada akhirnya bukan hanya tempat untuk tinggal, tetapi juga ruang untuk membangun hubungan sosial. Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi penyelesaiannya tetap perlu mengedepankan komunikasi, musyawarah, dan saling menghormati.
Sumber kasus pembanding:
Ahmad Kholil, “Konflik dan Deprivasi Relatif (Telaah Konflik Perumahan Taman Indah dan MTs Darussalam di Yogyakarta)”, Jurnal Sosiologi Agama, Vol. 13 No. 2, 2019, halaman 151–177. Artikel diterbitkan pada 21 Desember 2019. 
(Jeveron )






