Lomba Bapak-Bapak Pakai Baju Perempuan di HUT RI, Hiburan atau Tradisi yang Perlu Dikaji Ulang?
Ketika perlombaan menampilkan bapak-bapak berdandan seperti perempuan, mengenakan pakaian yang dianggap seksi, bahkan dinilai dari keberanian “mempertaruhkan harga diri laki-laki”, sudah saatnya konsep hiburan tersebut dipertimbangkan kembali.
Setiap bulan Agustus, suasana di berbagai lingkungan masyarakat berubah menjadi lebih semarak. Jalan-jalan dihiasi, bendera Merah Putih berkibar, dan berbagai perlombaan digelar untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tujuannya tentu positif: menciptakan kegembiraan, mempererat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan semangat kebersamaan.
Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, hingga berbagai permainan kreatif menjadi bagian dari tradisi perayaan kemerdekaan.
Namun, ada pula perlombaan yang konsepnya mengharuskan bapak-bapak berdandan seperti perempuan, mengenakan pakaian perempuan, bahkan menggunakan pakaian yang sengaja dipilih agar terlihat seksi.
Peserta kemudian diminta berjalan, bergaya, atau menampilkan gerakan yang diasosiasikan dengan perempuan untuk mengundang tawa penonton.
Bagi sebagian masyarakat, kegiatan tersebut mungkin dianggap sekadar hiburan. Peserta pun biasanya mengikutinya secara sukarela dan dalam suasana penuh kegembiraan.
Namun, ketika unsur pakaian seksi dan peniruan terhadap perempuan menjadi inti dari perlombaan, sudah sewajarnya konsep tersebut menjadi bahan refleksi.
Ketika “Lucu” Mulai Bersinggungan dengan Kepantasan
Masyarakat tentu membutuhkan hiburan. Perayaan kemerdekaan memang seharusnya menghadirkan kegembiraan.
Namun, sebuah perlombaan juga dapat dinilai dari bagaimana humor tersebut dibangun.
Apabila kelucuan muncul dari tantangan permainan, spontanitas peserta, kekompakan kelompok, atau kreativitas kostum, tentu hal tersebut berbeda dengan humor yang menjadikan pakaian seksi, tubuh, dan gaya perempuan sebagai bahan utama tontonan.
Ketika seorang laki-laki mengenakan pakaian perempuan kemudian menampilkan gaya berjalan yang dibuat berlebihan agar penonton tertawa, kita tidak hanya perlu melihat siapa yang tertawa.
Kita juga perlu melihat apa yang sedang dijadikan bahan tertawaan.
Apakah yang lucu adalah aksi dan kreativitas peserta?
Ataukah citra perempuan dan penampilannya yang dijadikan bahan komedi?
Perbedaan tersebut penting karena ruang publik bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak dan generasi muda juga menjadi bagian dari masyarakat yang menyaksikan kegiatan tersebut.
Miris Ketika Perlombaan Dianggap Mempertaruhkan Harga Diri Laki-Laki
Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah ketika sebuah perlombaan dinilai berdasarkan keberanian peserta dalam mempertaruhkan harga diri laki-laki melalui penampilan yang menyerupai perempuan, termasuk mengenakan pakaian yang dianggap seksi.
Jika dalam sebuah perlombaan terdapat anggapan bahwa peserta yang berani tampil demikian layak mendapatkan hadiah istimewa karena dianggap telah “mempertaruhkan harga diri laki-laki”, maka konsep tersebut patut dipertanyakan.
Mengapa harga diri seorang laki-laki harus dipertaruhkan melalui sebuah perlombaan?
Harga diri semestinya tidak diukur dari seberapa jauh seseorang bersedia mempertontonkan dirinya atau mengenakan pakaian tertentu demi mendapatkan tawa dan perhatian penonton.
Keberanian dalam sebuah perlombaan seharusnya lebih diarahkan pada sportivitas, kreativitas, kekompakan, dan semangat berkompetisi secara sehat.
Menjadikan “mempertaruhkan harga diri laki-laki” sebagai ukuran keberhasilan perlombaan juga dapat memberikan pesan yang kurang tepat kepada masyarakat. Seolah-olah semakin jauh seseorang melewati batas kepantasan demi hiburan, semakin layak pula ia mendapatkan penghargaan.
Padahal, sebuah perayaan kemerdekaan dapat menghadirkan kegembiraan tanpa harus mempertaruhkan martabat siapa pun.
Harga diri bukan sesuatu yang semestinya dipertaruhkan demi sebuah hadiah atau tepuk tangan penonton.
MUI Mengingatkan soal Pakaian yang Menyerupai Lawan Jenis
Fenomena ini juga relevan dilihat dari perspektif keagamaan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui MUI Digital pada 7 Agustus 2026 memuat pernyataan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali, mengenai sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam perayaan momen Agustusan.
Dalam artikel tersebut, MUI mengingatkan masyarakat agar tidak mengenakan pakaian yang menyerupai lawan jenis dalam kegiatan karnaval peringatan kemerdekaan.
Pandangan tersebut dikaitkan dengan konsep tasyabbuh, yaitu tindakan menyerupai lawan jenis dalam hal-hal yang menjadi ciri khasnya. Dalam perspektif syariat Islam yang disampaikan dalam artikel MUI tersebut, laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki merupakan tindakan yang dilarang.
Baca artikel resmi MUI tentang perayaan Agustusan
Bagi masyarakat yang menjadikan nilai agama sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, pandangan tersebut tentu dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan bentuk perlombaan.
Ketika Seksualitas Perempuan Menjadi Daya Tarik
Hal yang lebih sensitif adalah ketika unsur “seksi” menjadi daya tarik utama.
Pakaian terbuka, bentuk tubuh yang sengaja ditonjolkan, gerakan menggoda, atau gaya yang menyerupai perilaku seksual dapat membuat sebuah kegiatan yang awalnya dimaksudkan sebagai hiburan bergeser menjadi tontonan yang berorientasi pada tubuh dan seksualitas.
Perempuan bukan hanya persoalan pakaian, riasan, bentuk tubuh, atau gaya berjalan.
Jika semua unsur tersebut dikumpulkan dan dijadikan formula untuk membuat peserta laki-laki terlihat “semakin lucu”, masyarakat patut mempertimbangkan kembali apakah konsep hiburan tersebut masih sesuai dengan nilai kesopanan yang ingin dibangun.
Anak-Anak Juga Menjadi Penonton
Perayaan 17 Agustus biasanya bersifat terbuka dan dihadiri berbagai kelompok usia.
Anak-anak juga menjadi bagian dari penonton. Apa yang mereka lihat dalam kegiatan masyarakat dapat menjadi bagian dari pembelajaran sosial mereka.
Tentu tidak tepat menganggap bahwa satu perlombaan otomatis akan memberikan dampak buruk bagi anak. Namun, memilih hiburan yang sesuai untuk berbagai kelompok usia merupakan bentuk tanggung jawab sosial.
Jika tersedia bentuk hiburan yang sama-sama lucu dan meriah tetapi lebih sopan, mengapa tidak memilih alternatif tersebut?
Humor Tidak Harus Berasal dari Hal yang Sensitif
Masyarakat tentu membutuhkan humor. Tetapi humor tidak harus dibangun melalui pakaian seksi, tubuh, atau stereotip gender.
Kelucuan dapat muncul dari tantangan, spontanitas, kekompakan, kreativitas, dan situasi yang tidak terduga.
Lomba memasak, sepak bola sarung, balap karung, tarik tambang, estafet keluarga, lomba kostum pahlawan, permainan tradisional, hingga lomba kreativitas antarwarga dapat menghadirkan suasana yang sama-sama meriah.
Artinya, masyarakat tidak kekurangan cara untuk bersenang-senang.
Tradisi Tidak Harus Selalu Dipertahankan Apa Adanya
Sebuah tradisi boleh dievaluasi.
Apa yang dahulu dianggap lucu mungkin pada masa sekarang mulai dipertanyakan dari sisi kepantasan. Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan masyarakat.
Yang penting bukan menghilangkan semangat perayaan, melainkan memperbaiki bentuknya.
Semangat 17 Agustus adalah semangat kebersamaan, persatuan, gotong royong, sportivitas, dan rasa syukur atas kemerdekaan.
Nilai-nilai tersebut justru dapat diwujudkan melalui perlombaan yang kreatif dan positif.
Saatnya Mengubah Ukuran “Keberanian”
Mungkin sudah waktunya masyarakat mengubah cara memberikan penghargaan dalam perlombaan.
Keberanian tidak harus berarti berani tampil dengan pakaian yang semakin terbuka.
Kreativitas tidak harus berarti membuat penampilan yang semakin kontroversial.
Dan harga diri seorang laki-laki tidak seharusnya dipertaruhkan melalui sebuah perlombaan demi mendapatkan hadiah atau tepuk tangan penonton.
Keberanian dapat berarti berani tampil sportif.
Kreativitas dapat berarti mampu membuat pertunjukan yang menghibur tanpa merendahkan siapa pun.
Dan harga diri dapat tercermin dari bagaimana seseorang menghormati dirinya sendiri sekaligus menghormati orang lain.
Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Bermartabat
Pada akhirnya, perdebatan mengenai lomba bapak-bapak memakai pakaian perempuan seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas kegiatan masyarakat.
Kita tidak harus kehilangan tawa.
Kita hanya perlu memastikan bahwa tawa tersebut tidak dibangun dengan mengorbankan kepantasan, martabat, dan nilai yang kita junjung bersama.
Semangat kemerdekaan bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup bersama dalam keberagaman dan saling menghormati.
17 Agustus adalah momentum untuk merayakan kemerdekaan dirayakan dengan kegembiraan yang tetap sehat, kreatif, sopan, dan bermartabat.
Karena kemerdekaan seharusnya membuat kita semakin menghargai manusia, bukan menjadikan martabat seseorang sebagai bahan perlombaan.
(Jeveron)





