JAKARTA, JejakProfil.com – Inggris vs Argentina sebuah dendam lama yang sulit dikubur.
Dan kali ini semifinal Piala Dunia 2026 mempertemukan kedua negara itu kembali.
“Duel yang melampaui sekadar perebutan tiket menuju partai final. Penuh dendam!,” ujar Syaiful Amri pemerhati sepak bola.
Prancis melawan Spanyol menyajikan kualitas sepak bola tinggi, tetapi Inggris menghadapi Argentina selalu menghadirkan dendam yang sulit dikubur.
Laga klasik ini, sambung Syaiful Amri tidak pernah hanya membicarakan taktik.
“Sebab sejarah selalu ikut menendang bola sebelum peluit dibunyikan,” kelakar pria yang dikenal kritis soal kualitas liga di Indonesia itu.
Cerita Lama
Statistik memang mencatat Inggris lebih sering menang, tetapi angka tidak pernah mampu menghapus luka yang diwariskan puluhan tahun.
Sejak 1951, kedua negara membangun rivalitas melalui benturan gengsi, kontroversi, hingga drama yang terus hidup lintas generasi.
Piala Dunia 1966 menjadi titik ketika sepak bola berubah menjadi perang psikologis yang melibatkan harga diri sebuah bangsa.
Argentina menilai Inggris mencuri kemenangan, sedangkan Inggris menuduh lawannya menghalalkan segala cara demi hasil akhir.
FIFA Turun Tangan
Pertandingan panas itu bahkan mendorong FIFA memperkenalkan kartu kuning dan kartu merah sebagai simbol pengendalian kekacauan.
Dua dekade berselang, Diego Maradona membalas sejarah melalui gol “Tangan Tuhan” yang terus menghantui sepak bola Inggris.
Ironisnya, Inggris lebih lama mengutuk tangan Maradona daripada mencari cara menghentikan kecerdasan kaki kirinya.
“Gol terbaik abad itu seolah menampar keyakinan bahwa keadilan selalu berpihak kepada tim yang lebih kuat,” ulas Syaiful Amri.
Drama belum selesai ketika David Beckham terpancing provokasi Diego Simeone pada Piala Dunia 1998.
Inggris kembali pulang sambil menyalahkan akting lawan, bukan kelemahan mengendalikan emosi sendiri.
Saling Balas
Empat tahun kemudian Beckham membalas melalui penalti, tetapi kemenangan itu gagal menghapus luka sejarah.
Kini, kedua negara kembali bertemu setelah penantian panjang dengan beban yang jauh lebih besar.
Argentina mengejar gelar beruntun yang hanya pernah diraih sedikit negara sepanjang sejarah Piala Dunia.
Inggris memburu final pertama sejak 1966 sambil terus membawa nostalgia sebagai modal utama.
Sayangnya, nostalgia tidak pernah mencetak gol ketika lawan memiliki kualitas setara.
Banyak pengamat meragukan perjalanan Inggris dan Argentina karena tampil kurang meyakinkan dibandingkan Prancis maupun Spanyol.
Kedua tim memang sama-sama kebobolan lebih banyak daripada kandidat juara lainnya sepanjang turnamen.
Bintang dan Ego
Namun, semifinal bukan panggung tim paling rapi, melainkan milik tim yang bertahan paling kuat menghadapi tekanan.
Thomas Tuchel perlahan menghapus citra Inggris sebagai kumpulan bintang yang sibuk melayani ego masing-masing.
Inggris kini bermain lebih disiplin, lebih tenang, dan jauh lebih sulit dipancing kekacauan.
Harry Kane tetap menjadi mesin gol, sementara Declan Rice menjaga keseimbangan permainan dengan konsisten.
Sebaliknya, Argentina tetap bergantung pada kecerdasan Lionel Messi dalam membuka ruang sekecil apa pun.
Usia Messi terus bertambah, tetapi visi permainannya masih membuat pertahanan lawan kehilangan arah.
Menghentikan Messi terdengar sederhana ketika dibahas di studio televisi, tetapi hampir mustahil diwujudkan selama sembilan puluh menit.
Mac Allister menegaskan Argentina tidak merasakan tekanan karena pengalaman telah membentuk mental juara mereka.
Pernyataan itu terdengar wajar, sebab juara bertahan memang tidak membutuhkan validasi dari keraguan publik.
Argentina Main Keras
Teddy Sheringham bahkan mengingatkan Inggris mengenai kerasnya bek-bek Argentina yang tak pernah mengenal kompromi.
Sindiran itu sebenarnya menggambarkan identitas sepak bola Amerika Selatan yang selalu mengutamakan kemenangan.
Semifinal ini tidak menjanjikan permainan indah sepanjang laga, tetapi hampir pasti menyuguhkan benturan karakter tanpa belas kasihan.
Sejarah membuktikan Inggris melawan Argentina jarang melahirkan pertandingan biasa.
“Siapa pun pemenangnya, dunia kembali belajar bahwa beberapa rivalitas tidak pernah selesai oleh waktu, skor, ataupun generasi,” pungkas Syaiful Amri.






