Jakarta,19-06-2021 – Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, Waras Wasito, menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh alim ulama Bekasi, bertempat di Masjid Al-Furqon Bekasi Timur, Sabtu, 19 Juni 2021.
Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka Safari Silaturahmi Bulan Bung Karno, sekaligus penyerahan bantuan kepada 10 Masjid yang ada di wilayah Kota Bekasi.
“Silaturahmi dengan kaum alim ulama adalah tradisi yang diajarkan Bung Karno,” kata Waras.
Waras menjelaskan, meskipun Bung Karno seorang nasionalis sejati, namun dia adalah seorang Islam yang sangat taat. Sejak remaja, Bung Karno sudah hidup bersama seorang tokoh ulama besar pendiri Sarekat Islam, HOS Tjokroaminito. Pemahaman Bung Karno tentang Islam yang mendalam dapat dilihat dari jejak tulisan-tulisannya. Bung Karno juga memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan para Alim Ulama pada waktu itu, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia.
“Jadi selama ini ada anggapan yang salah, bahwa Bung Karno yang seorang Nasionalis sejati, seolah-olah bermusuhan dengan kalangan Islam. Ini anggapan yang salah,” jelas Waras.
Waras menceritakan bagaimana kisah Bung Karno yang memenuhi undangan pemerintah Komunis Unisoviet dengan satu syarat, yaitu meminta terlebih dahulu Pemerintah Soviet menemukan makam Imam Bukhari seorang perawi Nabi Muhammad SAW yang amat termasyur itu . Tentu saja permintaan Bung Karno membuat Unisoviet kalang kabut.
Menjelang kedatangan Bung Karno ke Unisoviet pada 1956, kondisi makam Imam Bukhari sangat memprihatikan, tidak terawat dengan baik, dipenuhi rumput belukar, hingga akhirnya pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Soekarno.
“Ini adalah salah satu bukti kecintaan Bung Karno terhadap Islam. Kecintaan ini diteruskan oleh putri beliau, yaitu Ibu Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan, dan menjadi perintah Partai kepada seluruh kader untuk terus menjalin dan menjaga silaturami dengan para alim ulama,” tegas Waras.
Salah satu bukti nyata kecintaan Megawati adalah dengan menyulap lahan parkir di seberang kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung menjadi Masjid Besar yang diberinama Masjid At-Taufiq yang baru-baru ini diresmikan.
“Masjid At-Taufiq bukan hanya milik PDI Perjuangan, tapi milik umat Islam khususnya yang tinggal di sekitar Lenteng Agung, selain itu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial masyarakat sekitar. Masjid ini dicanangkan akan menjadi Pusat Kajian khusus pemikiran Bung Karno tentang Islam,”
Waras menyayangkan fenomena beberapa tahun terakhir ini, yang menunjukan gejala dikotomi yang sangat tajam antara kalangan Nasionalis dan Agama. Menurut Waras, perbedaan golongan dan padangan dalam politik jangan sampai menjadi permusuhan dan perpecahan sesama anak bangsa. Terlebih saat ini muncul faham-faham yang bertentangan dengan Pancasila dan mengancam kedaulatan NKRI.
“Kata Bung Karno kita harus utamakan Persatuan. Warisi Apinya (Islam), jangan Abunya” tegas Waras.
(Slamet)